Kadang aku bertanya pada diriku sendiri apa yang penting untukku dan mengapa itu penting untuk seterusnya. Well kebiasaan ini membuatku begitu perhitungan pada segala sesuatu, sampai di titik aku merasa kalau aku lupa bagaimana caranya bersikap tulus ? Kurang masuk akal ketika aku berusaha untuk mencari dalih benar atau tidak kalau aku adalah kategori orang yang pamrih, otakku segera bergerak membuat alasan-alasan untuk membela. Seperti yang diharapkan, otak adalah pengacara yang selalu kuandalkan dalam setiap situasi yang menyudutkan diriku sendiri. Lantas salah satu pembelaan yang muncul adalah, urgensi apa ketulusan itu mesti dilakukan. Siapa orang yang berhak untuk mendapatkan ketulusan itu dan mengapa dia berhak untuk mendapatkan ketulusan dariku. Pembelaan berikutnya adalah, sebab tulus itu melelahkan. Tidak akan mendapatkan apapun selain terimakasih yang entah orang lain itu ucapkan secara tulus atau tidak juga. Sesungguhnya tidak sulit untuk menemukan con...
Tempat sampah pribadi. Do not repost