Seluruh sel dalam tubuh kita bekerja 24 jam agar kita tidak merasa sedih dan terpuruk. Tubuh tidak didesain untuk disakiti bahkan oleh pemiliknya sendiri. Seberapa sensitifnya perasaan, pikiran akan merasionalkan segala jenis kepedihan itu dalam bentuk validitas dan rasionalitas. Wajar merasa sakit karena disakitin, normal menangis karena terlalu banyak yang ditahan, itulah sebentuk rasionalitas dari pikiran untuk menenangkan hati yang paling peka terhadap sensitivitas perasaan. Dalam salah satu kelas kuliah pembelajaran sosial emosional, terdapat teori tentang Experiental Learning. Seperti anak-anak, butuh pengalaman konkret agar kita dapat mengambil sebanyak mungkin hal hal untuk refleksi diri. Bahwasannya pembelajaran yang dapat kita ambil tidak akan seberapa mendalam tanpa mengalami sesuatu secara langsung. Empati hanyalah abstrak. Perasaan adalah abstrak. Tapi pengalaman itu nyata. Hal-hal yang luput dari perasaan yang dirasionalkan adalah metamorfosis luka yang dilakuk...
Tempat sampah pribadi. Do not repost