Skip to main content

Hal-hal yang luput dari Perasaan yang dirasionalkan

 Seluruh sel dalam tubuh kita bekerja 24 jam agar kita tidak merasa sedih dan terpuruk. Tubuh tidak didesain untuk disakiti bahkan oleh pemiliknya sendiri. Seberapa sensitifnya perasaan, pikiran akan merasionalkan segala jenis kepedihan itu dalam bentuk validitas dan rasionalitas. Wajar merasa sakit karena disakitin, normal menangis karena terlalu banyak yang ditahan, itulah sebentuk rasionalitas dari pikiran untuk menenangkan hati yang paling peka terhadap sensitivitas perasaan. 

Dalam salah satu kelas kuliah pembelajaran sosial emosional, terdapat teori tentang Experiental Learning. Seperti anak-anak, butuh pengalaman konkret agar kita dapat mengambil sebanyak mungkin hal hal untuk refleksi diri. Bahwasannya pembelajaran yang dapat kita ambil tidak akan seberapa mendalam tanpa mengalami sesuatu secara langsung. Empati hanyalah abstrak. Perasaan adalah abstrak. Tapi pengalaman itu nyata.

Hal-hal yang luput dari perasaan yang dirasionalkan adalah metamorfosis luka yang dilakukan oleh pikiran agar perasaan tidak terlarut dalam luka itu. Luka itu ada namun telah terefleksi dalam bentuk lain. Bukan terlupakan. Tidak pernah musnah. Namun telah terpecah dalam bentuk yang tidak terlalu menyakitkan. Butuh waktu untuk benar-benar sampai pada tahap itu. Karena pikiran pun memiliki keterbatasan untuk merasionalkan tiap-tiap perasaan. Adapun bentuk terbaik dari rasionalitas perasaan itu adalah kesadaran. Namun kesadaran dapat luput karena bentuk lain dari perasaan yang dirasionalkan adalah denial atau penolakan atas kesadaran. Sialnya tubuh lebih menyukai bentuk yang ini. 


Comments