Skip to main content

Apa yang aku pelajari dari ketulusan

 Kadang aku bertanya pada diriku sendiri apa yang penting untukku dan mengapa itu penting untuk seterusnya. Well kebiasaan ini membuatku begitu perhitungan pada segala sesuatu, sampai di titik aku merasa kalau aku lupa bagaimana caranya bersikap tulus ? 

Kurang masuk akal ketika aku berusaha untuk mencari dalih benar atau tidak kalau aku adalah kategori orang yang pamrih, otakku segera bergerak membuat alasan-alasan untuk membela. Seperti yang diharapkan, otak adalah pengacara yang selalu kuandalkan dalam setiap situasi yang menyudutkan diriku sendiri. 

Lantas salah satu pembelaan yang muncul adalah, urgensi apa ketulusan itu mesti dilakukan. Siapa orang yang berhak untuk mendapatkan ketulusan itu dan mengapa dia berhak untuk mendapatkan ketulusan dariku. Pembelaan berikutnya adalah, sebab tulus itu melelahkan. Tidak akan mendapatkan apapun selain terimakasih yang entah orang lain itu ucapkan secara tulus atau tidak juga. 

Sesungguhnya tidak sulit untuk menemukan contoh orang paling tulus ini sebab aku hanya perlu melihat ibuku. Tak jarang aku mengkritik ibuku yang rajin dan suka menolong orang ini sebagai tindakan menyulitkan diri sendiri. Namun ibuku slalu berkata tidak ada salahnya menolong orang lain, ibu melakukannya karena ibu mau. 

Namun yang aku lihat adalah orang-orang itu makin kurang ajar saja memanfaatkan ibuku dan disaat itulah aku maju untuk ibuku. Dari apa yang aku pelajari soal ketulusan ini adalah lakukan dan berikan pada orang lain namun tetaplah membuat batasan. Batasan untuk bersikap tulus dan pamrih ini, aku menyebutnya sebagai perhitungan. 


huft... kurasa memang aku harus mengakui kalau aku orang yang pamrih yang serba perhitungan.

Comments

Popular posts from this blog

Hal-hal yang luput dari Perasaan yang dirasionalkan

 Seluruh sel dalam tubuh kita bekerja 24 jam agar kita tidak merasa sedih dan terpuruk. Tubuh tidak didesain untuk disakiti bahkan oleh pemiliknya sendiri. Seberapa sensitifnya perasaan, pikiran akan merasionalkan segala jenis kepedihan itu dalam bentuk validitas dan rasionalitas. Wajar merasa sakit karena disakitin, normal menangis karena terlalu banyak yang ditahan, itulah sebentuk rasionalitas dari pikiran untuk menenangkan hati yang paling peka terhadap sensitivitas perasaan.  Dalam salah satu kelas kuliah pembelajaran sosial emosional, terdapat teori tentang Experiental Learning. Seperti anak-anak, butuh pengalaman konkret agar kita dapat mengambil sebanyak mungkin hal hal untuk refleksi diri. Bahwasannya pembelajaran yang dapat kita ambil tidak akan seberapa mendalam tanpa mengalami sesuatu secara langsung. Empati hanyalah abstrak. Perasaan adalah abstrak. Tapi pengalaman itu nyata. Hal-hal yang luput dari perasaan yang dirasionalkan adalah metamorfosis luka yang dilakuk...

Sahabatku bernama Overthinking, Insecure, dan Anxious

   Pernahkah kau memiliki sahabat yang membersamaimu sepanjang waktu ? Mereka yang tidak pernah meninggalkanmu barang sebentar, selalu datang tanpa diminta bahkan ketika engkau ingin sendirian.  Aku punya sahabat yang seperti itu, bahkan aku rajin mengusirnya ketika mereka mendekat. Tapi ya gimana ya, usahaku sia-sia mengusir mereka.  Mereka kekeuh, tak sedetikpun meninggalkanku. Aku benci mereka karena tak membiarkanku sendirian. Aku benci mereka karena mereka setia bersamaku. Aku benci mereka karena tak membiarkanku bebas. K ebencian selalu berkonotasi negatif. Mungkin terdengar aku begitu kejam dan tega pada para sahabatku sendiri.       Kenalkan sahabat pertamaku namanya Overthinking. Suaranya terdengar begitu cerewet dalam otakku.  Ia sering sekali bercerita dengan cara hiperbola nan melankolis terutama ketika kami hanya berdua.Setiap malam ia mendongengkanku sebelum aku tidur, kadang-kadang aku tidak sadar hari sudah fajar ketika ia belum ...

Entitas #1

Aku menggambar ini ketika tanpa sadar aku memikirkan hal yang tidak ingin kulakukan tetapi bisa dilakukan. Tentu ada banyak hal di dunia ini yang bisa dilakukan namun perasaan yang kunikmati untuk membuat goresan-demi goresan pada gambar ini seolah mewakili negativitas yang terpancar dariku.  Merokok, bukan kegiatan haram kedengarannya. Banyak orang merokok dari orang biasa hingga ulama dan itu sudah berlangsung entah sejak kapan pertama kali ditemukannya. Aku pernah mendengar orang-orang merokok ketika banyak pikiran, rokok membuat pikiran menjadi tenang dalam sesaat, hmm apa iyya ? Okay demi kesehatan, mungkin aku juga kedepannya akan candu sama rokok. (buat digambar maksudnya )