Kadang aku bertanya pada diriku sendiri apa yang penting untukku dan mengapa itu penting untuk seterusnya. Well kebiasaan ini membuatku begitu perhitungan pada segala sesuatu, sampai di titik aku merasa kalau aku lupa bagaimana caranya bersikap tulus ?
Kurang masuk akal ketika aku berusaha untuk mencari dalih benar atau tidak kalau aku adalah kategori orang yang pamrih, otakku segera bergerak membuat alasan-alasan untuk membela. Seperti yang diharapkan, otak adalah pengacara yang selalu kuandalkan dalam setiap situasi yang menyudutkan diriku sendiri.
Lantas salah satu pembelaan yang muncul adalah, urgensi apa ketulusan itu mesti dilakukan. Siapa orang yang berhak untuk mendapatkan ketulusan itu dan mengapa dia berhak untuk mendapatkan ketulusan dariku. Pembelaan berikutnya adalah, sebab tulus itu melelahkan. Tidak akan mendapatkan apapun selain terimakasih yang entah orang lain itu ucapkan secara tulus atau tidak juga.
Sesungguhnya tidak sulit untuk menemukan contoh orang paling tulus ini sebab aku hanya perlu melihat ibuku. Tak jarang aku mengkritik ibuku yang rajin dan suka menolong orang ini sebagai tindakan menyulitkan diri sendiri. Namun ibuku slalu berkata tidak ada salahnya menolong orang lain, ibu melakukannya karena ibu mau.
Namun yang aku lihat adalah orang-orang itu makin kurang ajar saja memanfaatkan ibuku dan disaat itulah aku maju untuk ibuku. Dari apa yang aku pelajari soal ketulusan ini adalah lakukan dan berikan pada orang lain namun tetaplah membuat batasan. Batasan untuk bersikap tulus dan pamrih ini, aku menyebutnya sebagai perhitungan.
huft... kurasa memang aku harus mengakui kalau aku orang yang pamrih yang serba perhitungan.
Comments
Post a Comment