Skip to main content

Akrab dengan Kehilangan

(dokumentasi pribadi dan @juneeeeya)

Menurutku kehilangan adalah bukti kalau manusia diciptakan dengan perasaan, tak terkecuali laki-laki dan apalagi perempuan. Cuman ya beda-beda, ada yang memendam dan ada yang melampiaskan.  Setelah kehilangan barang favorit misalnya, sebagian orang akan beli baru, tetapi sebagian yang lain akan menyesal sampai seminggu. Apalagi kalau barang yang dikasih sama orang yang disayang, nggak terganti dan akhirnya cuman bisa menangisi. 

Kadang kita juga dihadapkan kehilangan orang tersayang. Kehilangan paling menyakitkan, tapi yang demikian itu akan berulang. Mau gimana lagi, kita nggak punya kuasa nahan seseorang yang tiba waktu untuknya pergi. Lagi-lagi harus mengakrabkan diri dengan kehilangan sampai diri terbiasa. 

Lalu gimana kalau kehilangan kali ini adalah kehilangan diri sendiri. Bagaimana kalau aku kehilangan aku ? 

Ya aku berada dalam fase ini. Diriku yang kenal adalah aku yang berhati dingin, agak anti sosial, dan selalu optimis. Akhir-akhir ini justru sebaliknya sejak kapan aku jadi begitu sensitif dan di saat yang sama mati rasa. Seperti moodswing yang begitu cepat sampai-sampai aku ngerasa seneng yang hambar dan sedih yang wajar. Apa-apaan. Aku ini kenapa ? 



2021.

Comments

Popular posts from this blog

Hal-hal yang luput dari Perasaan yang dirasionalkan

 Seluruh sel dalam tubuh kita bekerja 24 jam agar kita tidak merasa sedih dan terpuruk. Tubuh tidak didesain untuk disakiti bahkan oleh pemiliknya sendiri. Seberapa sensitifnya perasaan, pikiran akan merasionalkan segala jenis kepedihan itu dalam bentuk validitas dan rasionalitas. Wajar merasa sakit karena disakitin, normal menangis karena terlalu banyak yang ditahan, itulah sebentuk rasionalitas dari pikiran untuk menenangkan hati yang paling peka terhadap sensitivitas perasaan.  Dalam salah satu kelas kuliah pembelajaran sosial emosional, terdapat teori tentang Experiental Learning. Seperti anak-anak, butuh pengalaman konkret agar kita dapat mengambil sebanyak mungkin hal hal untuk refleksi diri. Bahwasannya pembelajaran yang dapat kita ambil tidak akan seberapa mendalam tanpa mengalami sesuatu secara langsung. Empati hanyalah abstrak. Perasaan adalah abstrak. Tapi pengalaman itu nyata. Hal-hal yang luput dari perasaan yang dirasionalkan adalah metamorfosis luka yang dilakuk...

Sahabatku bernama Overthinking, Insecure, dan Anxious

   Pernahkah kau memiliki sahabat yang membersamaimu sepanjang waktu ? Mereka yang tidak pernah meninggalkanmu barang sebentar, selalu datang tanpa diminta bahkan ketika engkau ingin sendirian.  Aku punya sahabat yang seperti itu, bahkan aku rajin mengusirnya ketika mereka mendekat. Tapi ya gimana ya, usahaku sia-sia mengusir mereka.  Mereka kekeuh, tak sedetikpun meninggalkanku. Aku benci mereka karena tak membiarkanku sendirian. Aku benci mereka karena mereka setia bersamaku. Aku benci mereka karena tak membiarkanku bebas. K ebencian selalu berkonotasi negatif. Mungkin terdengar aku begitu kejam dan tega pada para sahabatku sendiri.       Kenalkan sahabat pertamaku namanya Overthinking. Suaranya terdengar begitu cerewet dalam otakku.  Ia sering sekali bercerita dengan cara hiperbola nan melankolis terutama ketika kami hanya berdua.Setiap malam ia mendongengkanku sebelum aku tidur, kadang-kadang aku tidak sadar hari sudah fajar ketika ia belum ...

Entitas #1

Aku menggambar ini ketika tanpa sadar aku memikirkan hal yang tidak ingin kulakukan tetapi bisa dilakukan. Tentu ada banyak hal di dunia ini yang bisa dilakukan namun perasaan yang kunikmati untuk membuat goresan-demi goresan pada gambar ini seolah mewakili negativitas yang terpancar dariku.  Merokok, bukan kegiatan haram kedengarannya. Banyak orang merokok dari orang biasa hingga ulama dan itu sudah berlangsung entah sejak kapan pertama kali ditemukannya. Aku pernah mendengar orang-orang merokok ketika banyak pikiran, rokok membuat pikiran menjadi tenang dalam sesaat, hmm apa iyya ? Okay demi kesehatan, mungkin aku juga kedepannya akan candu sama rokok. (buat digambar maksudnya )